Riwayat Kelucuan yang 100% Sangat Tidak Lucu

Gus Dur - Riwayat Kelucuan

Riwayat Kelucuan yang Sengaja Jadi Tak Lucu – Percaya tak percaya, begitulah fakta nya. Aku sendiri awalnya juga tak begitu percaya, namun realitas telah menjawabnya. Realitas yang sungguh sangat nyata dan benar-benar adanya. Aku tak akan memaksa mu untuk percaya dengan realitas yang akan aku ceritakan ini, karena aku sangat yakin kalau kamu dapat menentukan realitas mu sendiri.

Cerita ini bukan (masih) merupakan lanjutan dari Riwayat Kegagalan Mengikuti Seleksi P3D Desa Jingkang. Tapi ini bukanlah sesuatu yang aku alami sendiri, aku memungut kisah ini dari dalam asbak yang penuh dengan puntung rokok, terselip di antara jutaan latu yang membumbung bak gunung, lalu menguap bersama asap yang dikeluarkannya.

Bagaimana, kamu sudah mulai tak percaya kan. Apa justru mulai penasaran? He he he…. Tertawalah dulu, karena cerita ini mengandung daya humor tingkat tinggi, makanya aku beru judul pada cerita ini dengan Riwayat Kelucuan.

BACA JUGA : Riwayat Kegagalan Mengikuti Seleksi P3D

Bacaan Lainnya

Riwayat Kelucuan yang Tidak Sengaja Jadi Tak Lucu

Jadi begini ceritanya : Tanah masih basah akibat hujan yang turun sejak sore tadi, membuat malam menjadi semakin sunyi, sepi. Tarno sedang duduk di teras rumahnya, segelas kopi hitam berdiri tegak di hadapannya. Masih ngebul, pertanda baru beberapa detik lalu dibuat. Sebelum menyeruputnya, tak ketinggalan ia menyalakan kembali rokok gudang garam patra yang tinggal setengah batang itu. Wussss, angin malam memecah kepulan asapnya.

Dari balik gelapnya malam muncul sesosok lelaki yang sudah tak asing lagi bagi Tarno. Aku tak akan menyebut siapa sosok itu, karena Tarno sendiri juga tak mau menyebutkannya. Aku pun menghormati keputusannya. Adakalanya memang nara sumber sengaja ingin merahasiakan identitasnya dan itu hak mereka, kita wajib menghormati keputusannya.

Karena sosok misterius itu menjadi tokoh utama dalam cerita ini, maka seperti pada umumnya cerita aku akan menamainya dengan Kang X supaya dalam penulisannya menjadi lebih mudah dan renyah.

“Saing arep dadi tah calon sing umaeh madep ngetan,” (Yang akan jadi itu calon yang rumahnya menghadap ke selatan) kata Kang X kepada Tarno usai menyuguhkan segelas kopi dan rokok kepadanya.

Tarno pun tersenyum mendengar perkataan Kang X dan paham arah pembicaraan dari tamunya itu ke mana. Sosok itu seolah ingin menegaskan bahwa Tarno yang saat ini sedang ikut proses P3D Desa dipastikan akan jadi, karena menurut sosok itu, rumahnya Tarno menghadap ke arah selatan.

“Di sini, ada dua calon yang rumahnya menghadap ke selatan,” jawab Tarno dengan santai sambil menjelaskan rumah yang menghadap ke selatan itu.

“Loh, bukanya rumah ini menghadap ke selatan,” timpal Kang X.

“Bukan, tapi Madep Ngetan!” jawab Tarno.

Mendengar jawaban jujur dari Tarno itu, wajah Kang X langsung berubah kecut.

Kata Gus Dur : “Gitu aja kok repot,”

Dan kamu sendiri pasti tau kan bagaimana kelanjutannya.

Bagaimana Riwayat Kelucuan ini? Apakah Riwayat Kelucuan ini dapat membuat mu tertawa? Atau masih kurang lucu?

Baiklah, kalau begitu akan ku ceritakan lagi satu Riwayat Kelucuan, kali ini benar-benar aku alami sendiri.

Suatu malam, menjelang hari H pelaksanaan ujian seorang teman dengan pongahnya  mengirimkan sebuah pesan singkat kepada ku yang intinya mengatakan bahwa saat ini ada dua orang calon yang sedang beradu ilmu kanuragan.

“Aku tertawa membaca pesan itu,” tambah si pengiriman pesan mengomentari pesan singkat yang dibagikan kepada ku itu.

Aku sendiri juga tak bisa menahan tawa ketika membaca pesan itu. Bukan karena apa-apa, aku tertawa karena hal itu memang sangat lucu, melebihi kelucuan grup lawak legendaris Banyuwangi Peang Penjol yang dulu sering aku dengarkan banyolannya lewat radio.

Meskipun demikian aku tetap membalas pesan singkat itu dengan serius, bahkan sangat serius.

Aku membalasnya dengan foto seorang dukun bayi yang kebetulan setiap pagi datang ke rumah untuk mengurus adik bontot saya yang baru lahir dari rahim ibu tercinta.

“Kie dukune nyong tah,” Jawab ku singkat dan tegas.

Ia kembali membalas dengan emoticon tertawa terbahak-bahak.

Sambil ndolani adine, sejenak dalam hatiku aku bertanya. Tuhan, apakah memang hidup harus selucu ini?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.