Berwisata Malam ke Pasar Malam

Pasar Malam di Taman Desa Pancurendang Kecamatan Ajibarang Banyumas

Pasar Malam Berubah Menjadi Tempat Wisata Malam

AHYAR WEB ID – Wangi aroma tanah basah menyambut kedatangan ku ketika sampai di area Taman Desa Pancurendang Desa Pancurendang Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Sabtu, 3/7/2022 malam.

Beberapa saat lalu, hujan baru saja reda. Sisa-sisa tetesnya masih terasa. Lembab, becek serta lunyu menemani ku berjalan keliling area Taman. Sesekali aku berjinjit menghindari genangan peninggalan hujan.

Kendati begitu, ratusan orang tetap saja datang ke area taman desa Pancurendang. Ada pasar malam, membuat mereka lupa jika hujan baru saja reda mengguyur tanam Desa yang masih dalam proses pembangunannya itu.

Di taman itu, keceriaan dan kebahagiaan tumbuh di mana-mana. Dari senyum para muda mudi yang mojok bersama pasangannya, gelak tawa anak-anak bermain wahana, petugas perkiraan yang sibuk menata kendaraan, penjual jagung bakar melayani pembeli hingga teriakan orang tua yang mencari-cari anaknya.

Pasar malam di taman Desa Pancurendang benar-benar berhasil membuat malam yang gelap menjadi bersinar. Udara yang lembab berubah menjadi hangat, sehangat mendoan di angkringan malam itu.

“Malam minggu hujan, jadi tidak begitu ramai,” kata penjual angkringan dengan senyum kecilnya, seolah menegaskan bahwa malam Minggu ini tidak seperti ekspetasi yang diharapkannya

“Oh ya, ini malam Minggu,” jawab ku singkat seperti orang yang linglung lupa malam. Wong nganggur pancen kelalenan, dadi ra usah apen-apen kaget, aja heran. 

Baca Juga : Daftar Lengkap Tempat Wisata Banyumas 2022

Minggu, 4/7/2022 sore. Sisa hujan kemarin sudah hilang, terik matahari sepanjang siang telah membuangnya. Aku kembali mampir ke angkringan selepas seharian jalan-jalan tanpa tujuan.

Langit tampak biru sore itu, angin berhembus kecil menembus celah-celah pagar yang dibuat dari kayu palet sebelum pecah menerpa tubuh ku. Jaket yang sebelumnya ku lepas karena panas ku kenakan kembali.

“Kopi…..!” kata ku singkat kepada penjual angkringan.

Di depan mata ku, pasar malam mulai menunjukkan titik-titik kehidupannya. Lampu warna-warni mulai dinyalakan, para pedagang mulai membuka lapaknya, tak ketinggalan sound sistem juga mulai dihidupkan menemani menyambut pengunjung yang tampak mulai berdatangan.

Kopi yang ku pesan sudah tersaji, aromanya khas kopi rakyat.

“Malam ini, semoga terang,” kata penjual angkringan menyampaikan harapannya usai meletakkan kopi di atas meja berwarna coklat kayu mahoni.

“Semoga saja,” jawab ku mengiyakan harapannya.

Harapan penjual angkringan itu boleh jadi juga mewakili harapan dari puluhan penjual lainnya. Karena malam Minggu yang patutnya jadi pusat keramaian tidak sesuai ekspektasi yang diharapkan. Meski tidak ada definisi yang pasti untuk menjelaskan ramai yang dimaksud oleh penjual angkringan itu.

Sendekala telah datang, aku masih (sok) sibuk dihadapan layar datar. Di ufuk barat, matahari terlihat samar-samar mulai jatuh perlahan. Burung serwiti beterbangan kesana kemari, menyambut malam yang sepertinya akan terang ini.

Harapan penjual angkringan itu sepertinya terbayar lunas, Minggu malam Senin itu benar-benar terang meskipun bulan tak lagi bersinar, tapi malam benar-benar terang. Pengunjung pasar malam pun tumpah ruah, tanah lapang taman Desa Pancurendang tak kuat menampung mereka, hingga macet di sepanjang jalan raya Ajibarang-Purwokerto.

Bagi orang Desa seperti saya, pasar malam bukanlah suatu hal yang luar biasa, karena hal itu sudah ada sejak zaman dulu. Bahkan kedatanganya kerap kali ditunggu-tunggu, karena saat itulah waktu yang tepat untuk menghibur diri, melepas lelahnya beban kerja siang hari.

Baca Juga : Riwayat Kegagalan Mengikuti Seleksi P3D

Pasar malam adalah makna dari wisata malam yang sesungguhnya. Hiburan alternatif bagi rakyat kecil berkantong pas-pasan seperti saya yang tak mampu menjamah mall di kota.

Malam tampak begitu hidup, penuh dengan wajah-wajah gembira dan pasar malam adalah pusatnya kegembiraan itu. Aku masih duduk di angkringan, mematikan laptop yang masih menyala lalu memesan nasi kucing lengkap dengan lauk pauknya untuk mengganjal perut yang mengkerut.

Usai makan, aku putuskan untuk pulang, selain karena waktu yang sudah malam, suasana yang terlalu ramai juga bagi ku itu kurang lah cocok untuk menikmati malam. Aku mengecek kembali tulisan yang sedang kalian baca ini lewat smartphone, setelah aku merasa cukup, aku pergi menjauhi pusat keramaian, bernama pasar malam.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *